MANADO — Dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) FTIK IAIN Manado, Ilham Syah, M.Pd., menjadi narasumber dalam kegiatan Diseminasi Karya, Sosialisasi, dan Bedah Buku yang ditulis oleh Iwan Setiawan. Kegiatan ini mengangkat hasil kajian tentang Waruga: Simbol Sejarah, Identitas Budaya, dan Bukti Peradaban Leluhur Masyarakat Minahasa.

Karya tersebut merupakan pengembangan dari hasil penelitian yang memperoleh dukungan Dana Kebudayaan Kementerian Kebudayaan melalui Program Indonesiana bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Penelitian dan penulisan buku ini menjadi salah satu upaya untuk mendokumentasikan, mengkaji, serta memperkenalkan Waruga sebagai bagian penting dari warisan budaya masyarakat Minahasa.

Waruga sebagai Simbol Sejarah Masyarakat Minahasa

Dalam pembahasan buku, Waruga tidak hanya dipandang sebagai peninggalan berupa bangunan atau makam batu, tetapi sebagai jejak sejarah dan bukti peradaban leluhur masyarakat Minahasa. Keberadaan Waruga menyimpan informasi mengenai kehidupan masyarakat masa lalu, termasuk cara masyarakat memandang kematian, hubungan sosial, tradisi, kepercayaan, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Waruga menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat Minahasa memiliki sejarah dan kebudayaan yang berkembang jauh sebelum masyarakat modern. Bentuk, susunan, lokasi, serta keberadaan Waruga di berbagai wilayah menjadi bagian dari jejak material yang dapat digunakan untuk memahami kehidupan masyarakat Minahasa pada masa lalu.

Karena itu, Waruga memiliki nilai yang tidak hanya bersifat historis, tetapi juga arkeologis, sosial, budaya, dan edukatif. Waruga dapat menjadi sumber informasi untuk memahami bagaimana leluhur masyarakat Minahasa membangun kehidupan sosial dan mempertahankan nilai-nilai budaya dalam komunitasnya.

Waruga sebagai Identitas Budaya

Dalam konteks kebudayaan, Waruga juga memiliki posisi penting sebagai identitas budaya masyarakat Minahasa. Warisan tersebut menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat yang menghubungkan generasi sekarang dengan kehidupan leluhur pada masa lalu.

Identitas budaya tidak hanya dibentuk melalui bahasa, kesenian, maupun tradisi yang masih dilakukan, tetapi juga melalui peninggalan sejarah yang memberikan gambaran mengenai perjalanan suatu masyarakat. Dalam konteks tersebut, Waruga menjadi salah satu simbol yang memperlihatkan keberadaan dan perjalanan peradaban masyarakat Minahasa.

Pemahaman terhadap Waruga menjadi penting agar generasi muda tidak hanya mengenal Waruga sebagai objek wisata atau peninggalan sejarah, tetapi mampu memahami makna budaya dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.

Waruga sebagai Bukti Peradaban Leluhur

Kajian mengenai Waruga juga menempatkan peninggalan tersebut sebagai bukti peradaban leluhur masyarakat Minahasa. Waruga menunjukkan adanya pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sistem sosial yang dimiliki masyarakat pada masa lalu.

Keberadaan Waruga dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari berbagai aspek kehidupan masyarakat Minahasa, mulai dari sejarah lokal, hubungan sosial, tradisi, sistem nilai, hingga perubahan kebudayaan yang terjadi dari masa ke masa.

Dengan demikian, Waruga tidak seharusnya hanya dilihat sebagai benda peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang dapat terus dikaji dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Perspektif Akademik dalam Pelestarian Waruga

Dalam kegiatan tersebut, Ilham Syah, M.Pd., memberikan perspektif akademik terhadap hasil kajian dan isi buku. Ia menekankan bahwa penelitian mengenai budaya lokal memiliki peran penting dalam memperkuat pengetahuan masyarakat mengenai sejarah dan identitas budaya daerah.

Menurutnya, Waruga dapat menjadi sumber pembelajaran yang mempertemukan antara sejarah, budaya, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, hasil penelitian tentang Waruga perlu terus diperkenalkan melalui berbagai ruang, termasuk sekolah, perguruan tinggi, forum akademik, dan kegiatan masyarakat.

Diseminasi hasil penelitian dan bedah buku juga menjadi sarana untuk membuka ruang dialog mengenai bagaimana Waruga dapat dipahami, dirawat, didokumentasikan, dan diwariskan sebagai bagian dari kekayaan budaya Minahasa.

Generasi Muda dan Pelestarian Waruga

Kegiatan ini turut dihadiri oleh H. Anis R. Toma, S.Pd.I., M.Pd., Kepala MAN Model 1 Plus Keterampilan Manado, guru sejarah dan rumpun IPS, akademisi, mahasiswa, serta generasi muda.

Kehadiran kalangan pendidikan dan generasi muda menjadi bagian penting dalam memperluas pemahaman tentang Waruga. Sekolah dan perguruan tinggi dapat menjadi ruang strategis untuk mengenalkan sejarah dan budaya lokal kepada peserta didik sehingga mereka memiliki pengetahuan mengenai warisan budaya di daerahnya sendiri.

Waruga dapat dijadikan sumber pembelajaran kontekstual. Peserta didik tidak hanya belajar sejarah melalui buku teks, tetapi juga dapat memahami peninggalan budaya yang berada di lingkungan masyarakatnya. Dengan demikian, pembelajaran sejarah dan budaya menjadi lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.

Dari Hasil Riset Menjadi Buku

Buku “Waruga: Simbol Sejarah, Identitas Budaya, dan Bukti Peradaban Leluhur Masyarakat Minahasa” merupakan bentuk pengembangan hasil penelitian menjadi karya yang dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh masyarakat lebih luas.

Melalui buku tersebut, informasi mengenai Waruga dihimpun dan disusun agar dapat menjadi bahan referensi bagi akademisi, guru, mahasiswa, pelajar, pemerhati budaya, serta masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai warisan budaya Minahasa.

Diseminasi dan bedah buku ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan untuk memperkenalkan sebuah karya, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa Waruga merupakan bagian penting dari sejarah, identitas budaya, dan jejak peradaban leluhur masyarakat Minahasa yang perlu terus dipelajari, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Melalui kolaborasi antara peneliti, akademisi, sekolah, guru, mahasiswa, dan generasi muda, hasil kajian mengenai Waruga diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi penguatan pengetahuan sejarah serta pelestarian budaya lokal di Sulawesi Utara.

Post a comment

Your email address will not be published.

Related Posts